Waspadai Pornografi!

Indonesia –konon- merupakan sebuah negeri yang katanya menganut budaya timur yang penuh kesopanan. Namun, ternyata pornografi menjadi masalah pelik diantara sejuta masalah yang lainnya, yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Pornografi (dan pornoaksi) telah merajalela dimana-mana, tak cuma di media koran, tabloid majalah dan komik orang dewasa, tetapi juga di berbagai media remaja dan anak-anak. Terutama internet yang dapat diakses dengan mudah oleh berbagai kalangan. Meski bahaya akibat pornografi (dan pornoaksi) seperti seks bebas, pencabulan pada anak-anak, perkosaan, perselingkuhan, incest (hubungan seks dengan muhrimnya), bahkan pembunuhan telah menghantui negeri ini, sistem hukum (KUHP) yang ada ini belum mampu memberantasnya.

Hal tersebut karena adanya sekelompok masyarakat yang senantiasa berusaha menggagalkan setiap upaya di-UU-kannya aktivitas pornografi (dan pornoaksi) ini. Salah satunya melalui Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Sayangnya, atas nama kebebasan berekspresi, RUU APP (yang berubah menjadi RUU Pornografi) ini dianggap hanya akan memasung kreativitas seni dan mengabaikan kemajemukan yang ada di dalamnya. Walhasil, penentangan pun dilakukan habis-habisan. Semua ini menjadi wajar melihat kenyataan bahwa para pengusung ide kebebasan dan pemodal, penggiat, maupun pelaku pornografi (dan pornoaksi) mendapatkan untung besar dari bisnis ini. Bagaimana tidak menggiurkan jika dengan uang Rp 3 juta saja, Tabloid Lipstik –sebuah tabloid ’syuur’ kecil-kecilan di Jakarta-bisa melakukan empat kali penerbitan. Adapun pendapatannya dari iklan untuk tiga kali terbit saja bisa mencapai Rp 60 juta (Majalah Tempo Ed.20-26 Maret 2006). Sedangkan pada tahun 2003, keuntungan industri pornografi yang pasarnya beroperasi di seluruh dunia mampu mencapai angka 57 miliar dolar AS. Keuntungan ini melebihi total keuntungan seluruh pemilik klub-klub sepak bola, baseball, dan basket profesional, bahkan melebihi keuntungan tiga jaringan TV ABC, CBS, dan NBC yang digabung menjadi satu (Dr.Moh. Omar Farooq dalam nation.ittefaq.com). Bisnis ini akan semakin menghasilkan dolar yang bombastis manakala digabungkan dengan industri hiburan di kafe-kafe, hotel, fesyen, televisi, maupun film. Karenanya, tidak heran jika para pemain dalam industri ini berada dalam barisan paling depan untuk menentang setiap upaya yng menghambat laju pornografi (dan pornoaksi). Mereka lebih setuju dengan peminimalisiran efek pornografi (dan pornoaksi) melalui Pasal Tindak Pidana Kesusilaan dalam KUHP, UU Pokok Pers, UU Perfolman Nasional, UU Penyiaran, UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dan UU Perlindungan Anak, serta melalui perbaikan kualitas pendidikan moral di Indonesia.

Uraian di atas tentu saja sangat memilukan hati umat Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini. Andai saja, masyarakat dan pemerintah mau mengambil solusi dari permasalahan ini melalui Islam, satu-satunya agama yang diakui di sisi Alloh dan yang telah diyakini serta dijadikan sebagai identitas diri mereka selama ini, tentulah masalah pornografi (dan pornoaksi) dapat segera dituntaskan. Dengan jelas, Islam telah mendefinisikan makna porno sebagai aktivitas yang menampakkan auratnya kepada orang yang tidak berhak.” Karena itu, secara rinci Islam juga telah menetapkan batasan aurat bagi laki-laki dan perempuan yang berbeda, larangan tabarruj (menampakkan perhiasan dan kecantikannya dihadapan laki-laki asng / bukan mahram), serta larangan berkhalwat (laki-laki dan perempuan berduaan di tempat yang sunyi) dan berikhtilat ( campur klaki-perempuan di tempat umum yang seharusnya bisa dipisahkan).

Demikianlah, pornografi (dan pornoaksi) telah terbukti menjadi jalan utama bagi berbagai kemaksiatan yang termasuk dosa-dosa besar seperti perzinahan, pemerkosaan, dan sejenisnya bahkan juga pembunuhan. Maka, tunggu apa lagi, ayo bersama-sama kita hentikan pornografi (dan pornoaksi) . Stop Pornografi!

(Mbak Anita)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: