Sobat, Lindungi Jiwamu dari Tradisi Jahiliyah

Seperti matahari yang tiada lelah bersinar atau air yang terus mengalir dari hilir ke hulu. Demikianlah perbincangan mengenai cinta. Lidah takkan kelu untuk membicarakannya, hati tiada berhenti untuk berdebar, dan akal tidak pernah kehabisan stok kata-kata untuk menggambarkan keindahannya. Sahabat, cinta menjadi inspirasi bagi semua aktivitas di bumi ini, alasan untuk saling mengenal, berkorban, dan mengikat kesetiaan. Tanpanya, kehidupan laksana pepohonan yang kering kerontang dan dunia akan diliputi kebencian dan kedengkian antar sesama. Sehingga, eksistensi manusia akan musnah dalam hitungan waktu.
Sahabat, Maha Suci Allah yang telah memberikan potensi cinta dalam jiwa kita. Betapa rasa ini bisa diungkapkan dengan berbagai macam cara. Senyuman di pagi hari, sapaan tulus, ataupun nasihat sederhana bisa menjadi bukti bahwa kita saling mencintai. Sahabat, kita pun sama-sama telah merasakan betapa kesederhanaan cinta yang disalurkan secara tulus baik dari sahabat terdekat, ortu, maupun orang-orang tercinta adalah kontribusi terbesar yang mendewasakan kita selama ini. Tiada mungkin kita bisa tumbuh dan berkembang seperti sekarang tanpa pendampingan cinta yang murni. Bersyukurlah, karena kita telah dianugerahi dan dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki sebentuk rasa mulia ini. Namun, jangan salah! cinta bisa pula membawa petaka. Sahabat, ketika air mengalir dengan kekuatan besar dan tanpa ada kendali tentu akan merusak lingkungan dan mencipta musibah banjir. Demikian pula gelombang cinta. Ketulusan hati akan berubah menjadi nafsu dan ambisi tatkala tercurahkan tanpa batas dan kendali. Oleh karena itu, love needs rules. Sehingga, penyaluran cinta di kehidupan sesuai dengan maksud sang Pencipta menganugerahkan potensi ini dalam jiwa kita yaitu, menentramkan jiwa dan melestarikan kehidupan manusia.
Berkaitan dengan penyaluran ini, 14 februari yang baru saja berlalu, dianggap masyarakat sebagai saat tepat untuk pembuktian cinta. Biasanya, menjelang tanggal tersebut, mayoritas remaja gaul akan disibukkan mempersiapkan spesial event untuk orang-orang yang menawan hati. Entah orang tua, sahabat, ataupun orang yang ditaksir. Biasanya sih spesial event ini cenderung untuk sahabat dan gacoan jiwa. Valentine Day, namanya. Warna merah jambu, kata-kata romantis, good looking performance menjadi persiapan wajib. Sehingga pengungkapan hati tidak bertepuk sebelah tangan, kita bisa terbebas dari cap JOJOBA (jomblo-jomblo bahagia), dan yang terpenting usaha ini bisa menjadi awal jalinan spesial relationship di bulan-bulan mendatang. 14 februari tanpa perayaan valentine day kayaknya gak TOP banget! Betulkah? Nah, sebelum kita sama-sama mengamini tradisi ini dan bahkan terlibat didalamnya, kita perlu tahu status dari tradisi budaya ini. Jangan-jangan, udah keluar banyak biaya tapi malah merusak kesehatan iman en aqidah diri. Artinya, kita hanya keren dihadapan manusia tapi fakir dihadapanNya. Naudzubillah banget dech…

Apa seh V-Day itu?
Ada asap pasti ada api. Setiap aktivitas pasti ada latar belakangnya. Demikian pula dengan Valentine Day. Kalo dilihat secara bahasa, statement valentine day bukan berasal dari bahasa Al Qur’an yaitu bahasa arab. Valentine day adalah ungkapan asing yang merupakan simbol khas dari suatu kaum atau agama. Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata Valentine berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Jika merunut sejarah kemunculannya, budaya ini berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day. The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).
Icon “Cupid” (bayi bersayap dengan panah), yang sering di sebut sebagai simbol valentine day/cinta, konon adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari. Dia digelari tuhan cinta/dewa amor karena rupawan sehingga diburu wanita. Bahkan diceritakan ia pernah berzina dengan ibunya sendiri. Maka dari itu, aktivitas valentine day selalu lekat dengan momen pengungkapan isi hati en percintaan.

Di Buang Sayang ato Di Ambil Beracun?
Senang memang rasanya jika kita bisa membaur dan terlibat dalam pergaulan tren remaja sekarang ini. Plakat Kuper, Kuno en Kuin bakal jauh-jauh dari kita. Teman pun bertambah banyak. Bahagia pun terasa ketika someone spesial memberi perhatian ato cinta kita sambut bergayung. Serasa menemukan jati diri kita yang sesungguhnya di masa-masa remaja penuh bergejolak ini. Cukupkah begitu? Ups! Kita ternyata tidak bisa mengabaikan bahwa identitas diri telah dianugrahkan pada kita jauh sebelum masa remaja menjelang. Identitas alamiah yang ditandai dengan status kemusliman kita. Tanda keimanan kita kepada Dzat yang Maha Mencipta dan Mengatur. Sahabat, ternyata status muslim ini membawa konsekuensi yang cukup mulia. Kita bukan sekedar di minta untuk mengakui dan berikrar terhadap keESAan Allah. It’s more than a word, frenz. DIA meminta aksi nyata dari pembenaran itu. Yaitu kemampuan kita untuk taat pada seruanNya di semua aktivitas kehidupan kita baik secara individu maupun ketika bergaul dengan sesama. Termasuk penempatan suka, benci, selera, ato kecederungan jiwa. Semua kudu terikat ma keinginanNya. Ih, masak Tuhan maksa banget seh. Kagak juga kok. DIA malah memudahkan kehidupan kita. Aturan diberikan agar kita terjaga dari tindak asusila dan menjerumuskan. Supaya kita ndak tersesat dalam glamour fatamorgana dunia ini. Semua dilakukanNya atas nama cintaNya kepada makhluk-makhlukNya.
Nah, Allah dalam risalahNya yaitu agama Islam juga memberikan status yang jelas terhadap tradisi V-Day. Dari awal, kita telah menemukan bahwa V-Day bukan tradisi kepercayaan umat Islam. Bahkan aktivitas yang ada cenderung untuk mensekutukan Allah yaitu pengagungan Nimrod dan Lupercus (Tuhan Romawi). Dalam agama Nasrani, tradisi ini dirayakan untuk menghormati kematian pendeta St. Valentino. Sama sekali gak nyrempet risalah agama Islam. Oleh karena itu, “Siapa saja yang menyerupai suatu kaum (gaya hidup dan adat istiadatnya), maka mereka termasuk golongan tersebut”(HR.Abu Daud&Imam Ahmad dari Ibnu Umar). Jelas sekali, sahabat. Pilihan telah ditetapkan. Barangsiapa yang mengikuti tradisi di luar agama Islam maka mereka menjadi bagian dari kaum yang mempercayai tradisi itu. Allah pun secara gamblang memperingatkan, “Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya, Kitabullah dan Sunnah nabiNya” (HR. Imam Malik). Makna tersirat dari ayat di atas adalah bahwa aktivitas yang tidak akan menyesatkan kehidupan kita adalah segala hal yang termaktub dalam Quran dan Hadits. Selain daripada keduanya tidak akan menjamin ketentraman dan teraihnya ridho Allah. Ini menunjukkan bahwa V-Day bukan dari Islam dan Allah tidak memberi jaminan keselamatan bagi segala hal di luar seruanNya. Kalo kita nekat mengikutinya karena takut terkucilkan dari pergaulan modern, maka sungguh Allah pun tidak pernah salah dalam peringatanNya. Bisa jadi materi yang dikeluarkan menjadi mubadzir, kita akan terjerumus pergaulan bebas nan lepas, ato ilmu yang kita selami di sekolah menjadi tidak manfaat. Maha Benar Allah atas segala perkataanNya.
Kebanyakan remaja sering menggunakan tradisi ini untuk mencari pacar atau menembak seseorang yang digandrungi. Upaya muda-mudi untuk PDKT dengan lawan jenis sangat diekspose. Pokoknya ALL OUT-lah, habis-habisan. Mulai dari permak wajah, tubuh, gaya berpakaian, penciptaan suasana romantis, berbagai macam kado dan aksesoris untuk sang pujaan hingga lisan pun harus lihai berpujangga. Semua ini sangat diupayakan agar pengungkapan kasih sayang berjalan dengan lancar en kagak malu-maluin. Apalagi, remaja kita semakin dipermudah sekarang karena para pebisnis dan media massa memberikan peluang dan sarana yang bervariasi. Mall ato plaza memberikan banyak tawaran menarik mulai dari merchandise dan souvenir sebagai kado, mencetak berbagai kartu bertema cinta yang romantis, ato berbagai macam aksesoris tubuh biar tambah PeDe merayakan v-Day. Produk ini digencarkan dengan berbagai plakat nuansa gelora cinta yang dipasang di tempat-tempat umum. Sehingga konsumen terhasung untuk berbelanja di tempat mereka. Tidak mau kalah, media massa merancang berbagai macam program bertajuk cinta mulai dari penayangan romance film, pagelaran kuis perjodohan ato nembak doi, dan pertunjukkan live romance concert. Tujuan para produsen dan media massa itu hanya satu yaitu meraup keuntungan yang besar dengan memanfaatkan momen yang ada. Kalaupun toh ada dampak negatif ato positif dari semua program dan produk yang digencarkan ke publik itu, mereka berlepas tangan. Final destination, remaja kita semakin keblinger dalam arus cinta monyet dan menjamurnya pasangan-pasangan muda yang di mabuk asmara pasca valentine day. Weleh…

Bergegaslah Membersihkan Diri dari Setitik Noda
”Dan janganlah kamu melakukan sesuatu yang tidak ada ilmu di dalamnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban”(Al Isra’:36)
Sahabat, memang benar, ilmu adalah cahaya kehidupan. Tanpa ilmu laksana berjalan di malam gelap gulita tanpa penerang. Pun demikian dalam setiap aktivitas kita. Kita bukan anak kecil yang melakukan sesuatu hanya berdasarkan having fun saja. Sudah saatnya, kita membangun kedewasaan diri mulai sekarang. Pencarian identitas diri adalah dengan cara mengembalikan tujuan utama diri ini diciptakan. Sebagai hamba Allah yang hidup untuk mematuhi aturan dariNya semata. Selain dari itu adalah jalan yang menyesatkan. Status kemusliman yang telah tersandang sejak kecil menunjukkan bahwa Islam semata the real way of our life. Oleh karena itu, remaja yang berjati diri bukanlah seseorang yang tidak punya pendirian dan membebek kepada semua hal yang dianggap gaul en trendy. Remaja beridentitas adalah sosok yang tidak mudah terbawa arus. Dia akan mempertimbangkan kesesuaian gaul en trendy itu berdasarkan ridho dan tidaknya Allah. Karena, dia sangat menyadari bahwa kehidupan tidak berlangsung lama. Asal semua manusia adalah berawal dan berakhir dengan menghadapNya. Sehingga, merugilah seseoran yang berjalan di muka bumi tanpa meraih keridhoan Illahi.
Sahabat, kita pun telah menyaksikan betapa banyak remaja-remaji yang terjerumus dalam pergaulan tidak sehat. Selain kondisi masyarakat yang jauh dari Islam, media massa pun jarang mempertontonkan tayangan yang mensehatkan aqidah kita. Oleh karena itu, kita tidak bisa menunggu banyak waktu lagi. Yuk, sama-sama memupuk rasa cinta untuk mendalami Islam dan beraksi menyadarkan sahabat-sahabat kita yang lain agar kembali pada jalanNya. Bukankah Rasul pun telah menasehati, “Siapa yang tidak menyayangi sesama manusia, tidak disayangi Allah”(HR. Bukhari-Muslim). Nah, salah satu ungkapan cinta yang dianjurkan oleh Islam adalah saling menasehati dalam kebaikan dan kebenaran. Semoga Allah memudahkan setiap urusan kita. Kita tunggu kiprahmu sahabat untuk saling bergandengan tangan meraih cintaNya yang paling indah. Wallahu a’lam bi ash showwaab

(Mbak Vie)

Satu Tanggapan

  1. salam hangat, tulisannya bagus, tetaplah berkarya, mari jalin silaturrahmi. salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: