Kiat Menghadapi Aksi Diam Anak

    Sebuah keluarga, suatu pagi di hari libur bersiap-siap berangkat ke luar kota. Rupanya mereka akan berkunjung ke rumah nenek. Jam 08.00 semua sudah siap. Tinggal si sulung, Reza (8 th) yang belum selesai mandinya.
Tidak biasanya Reza mandi berlama-lama seperti ini. Sampai-sampai Ibu tak sabar lagi. “Reza cepat mandinya. Ini sudah jam delapan. Nanti keburu siang!” teriak ibu menahan jengkel. Tapi Reza tetap mandi berlambat-lambat.
“Reza, dengar nggak! Cepat mandinya. Kamu ini ngapain sih? Teriak ibu lagi.
Ayah Reza yang sejak tadi sudah menunggu jadi ikut jengkel melihat tingkah laku anaknya.”Reza, kamu dengar nggak sih! Jadi anak yang baik dong!” kata ayah setengah membentak sambil menggedor pintu.
Menghadapi bentakan ayahnya , Reza segera menyulut pertengkaran mulut. Tak kalah sengit dia melampiaskan kemarahan kepada orangtuanya. “Ayah selalu membentak-bentak, maunya menang sendiri. Ibu juga jahat, tidak sayang sama Reza.” Pertengkaran mulut itu meluas. Mereka akhirnya tidak saja mempersoalkan Reza yang mandi lama.
Para orang tua sering menjumpai anaknya yang tiba-tiba menjadi seorang yang sangat pemalas, berlambat-lambat melakukan segala sesuatu, atau bahkan tidak mau melakukan apa yang sebenarnya dia bisa dan tidak mau menjawab pertanyaan.
Ia sengaja melakukan itu sebagai sikap negatif agar orang tuanya marah. Hal ini disebabkan adanya keinginan-keinginan yang menurut si anak tidak terpenuhi. Sehingga ia memancing kemarahan orang tuanya agar dia bisa melampiaskan kemarahannyajuga. Inilah yang disebut dawdling.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering menjumpai anak kita melakukan dawdling. Perilaku negatif ini dapat dilakukan anak sejak usia 3 tahun sampai dengan remaja akhir (sekitar usia 19 tahun).
Pada anak usia 4 tahun, misalnya dapat melakukan dawdling dengan berlambat-lambat makan. Makanan dimulut dibiarkan tanpa dikunyah. Pada anak yang lebih besar, akan lebih bervariasi karena mereka lebih mampu memilih tindakan yang jitu untuk membuat orang tuanya marah.
Dawdling memang mudah menyulut kemarahan. Tetapi dalam menghadapinya dengan menunjukkan kemarahan justru berpotensi menjadi bumerang karena tujuan anak untuk membuat marah, berhasil. Anak pun terpenuhi ambisinya untuk marah, sehingga terjadilah pertengkaran, yang kita semua tidak ada yang menginginkan.
Orang tua tidak perlu menghadapi dawdling dengan marah. Kunci keberhasilan menghadapinya justru terletak pada kesabaran untuk menahan diri agar tidak menampakkan kemarahan. Sebaiknya menunjukkan sikap santai seolah-olah tidak terjadi suatu peristiwa yang mengganggu.
Untuk mengetahui penyebab si anak melakukan dawdling, ajaklah dia berdialog. Tetapi bukan pada saat si anak sedang melancarkan aksinya, lain waktu ketika dia terlihat riang.
“Reza, ibu ingin tanya. Kenapa sih Reza kadang kok suka lama sekali kalau mandi?”  “Firda kadang-kadang kalau makan, dikunyah terus. Nggak ditelan-telan. Mengapa?” Dialog yang akrab antara orangtua dan anak insya Alloh akan menyelesaikan masalah-masalah yang muncul. Dengan dialog yang hangat orangtua dapat menjadi sahabat, panutan dan pemimpin secara efektif bagi anak.

(Sri Ambarwati, SE. dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: