Cinta untuk Sang Nabi

Pendahuluan
Rasa cinta kepada Rasulullah saw. sangat dangkal kalau hanya diungkapkan dalam acara-acara ritual seperti peringatan mengenang kelahiran beliau. Kecintaan semacam ini tidak bermakna apa-apa jika dalam aspek kehidupan nyata, ajaran yang dibawa oleh beliau justru banyak ditinggalkan. Bagaimana mungkin seseorang dikatakan mencintai Rasulullah, sementara teladan kehidupan real dia ambil dari selain Rasulullah—dalam berekonomi dia meneladani Adam Smith dan David Richardo; dalam berpolitik dia merujuk kepada Machievelli dan Mountesque; dalam kehidupan sosial dan perubahan masyarakat dia mencontoh konsep Karl Marx, Lenin, dan Stalin; dalam pendidikan dan psikologi di berkaca pada teori Sighmund Freud; dst.  Padahal, hanya Rasulullahlah yang layak dijadikan teladan pada semua aspek di atas.

Metode Mencintai Nabi saw.

Kecintaan dan pengagungan kita kepada Rasulullah saw. mengharuskan kita untuk menyelaraskan semua hal yang terkait dengan pribadi maupun sosial kita dengan tuntunan Rasulullah saw.  Meneladani Rasulullah saw. dalam ibadah mahdhah diwujudkan dalam bentuk ketundukan dalam menjalankan dan memelihara shalat—misalnya—sesuai dengan tuntunan beliau.  Rasulullah bersabda:

Shalatlah kalian, sebagaimana aku shalat. (HR al-Bukhari).

Rasulullah saw. adalah sosok yang berakhlak agung dan mulia, yang layak kita tiru.  Siti Aisyah ra., ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab, “Akhlak Rasulullah saw. adalah al-Quran itu sendiri.” (HR Muslim dan Abu Dawud).
Perlu dicatat, ada perbedaan mendasar antara akhlak dan moral.  Akhlak adalah terminologi Islam dengan landasan niat dari Allah dan Rasulullah-Nya serta bernilai pahala di sisi-Nya.  Sebaliknya, moral bersifat umum, yang dorongannya kadang-kadang dari humanisme yang belum tentu muncul dari
perintah Allah dan Rasul-Nya.  Sikap moral belum dapat menjamin akan mendapatkan pahala dari Allah dan Rasul-Nya bagi pelakunya.

Kecintaan kita kepada Rasulullah saw. juga harus kita wujudkan dalam cara berpakaian,  makan, dan minum kita.  Allah dan Rasul-Nya mewajibkan seorang Muslim dan Muslimah untuk berpakaian yang menutup aurat.  Aurat bagi laki-laki adalah dari bawah lutut hingga atas pusarnya, sementara aurat seorang wanita adalah seluruh anggota tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangannya.  Allah dan Rasul-Nya juga mewajibakan kaum Muslim untuk makan dan minum dari barang yang halal dan baik (thayyib), jika mereka memang mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Dalam berkeluarga,  selayaknya seorang Muslim  menjadikan Rasul sebagai contoh bapak rumah tangga yang baik. Seorang suami adalah pemimpin yang harus melindungi keluarganya dari sengatan api neraka. Sebagai seorang suami, Rasulullah adalah laki-laki yang sangat mencintai dan menyayangi istri-istrinya. Beliau telah menyatakan rasa kecintaan ini pada hadisnya:

Telah ditanamkan padaku rasa cinta kepada wanita, wewangian, serta dijadikan mataku sejuk terhadap shalat. (HR an-Nasa’i).

Dalam kehidupan sosial, Rasulullah saw. juga wajib kita jadikan  teladan.  Rasul bukanlah tipe individualis yang hanya memikirkan dirinya sendiri; bukan pula manusia yang suka berdiam di rumah seraya memisahkan diri dengan masyarakat sekitar. Kondisi ini tidak selaras dengan misi beliau sebagai pembawa risalah bagi umat manusia.  Beliau bergaul dengan masyarakat dari kalangan atas maupun bawah. Kondisi demikian bisa kita lihat dari kunjungan beliau kepada Ibn Anas bin Malik, juga Qais bin Saad bin Ubadah di rumahnya, lalu beliau bedoa untuk mereka.  Beliau juga mengunjungi Rubayyi’ binti Muawwidz ketika Rubayyi’ menikah.  Ragam kunjungan beliau ke berbagai lapisan masyarakat seharusnya menjadi  teladan kita dalam bergaul di masyarakat.

Jangan lupa, Rasulullah saw. juga adalah seorang  politikus dan negarawan ulung.  Ketajaman analisis politik beliau terekam jelas dari bagaimana strategi perubahan masyarakat yang beliau jalankan.  Beliau tidak bersedia menerima kekuasaan dari kalangan Quraisy, walaupun suku ini kuat dari sisi posisi politik dan militer, tetapi  rapuh dari  kekuatan ideologis. Beliau justru menempuh cara yang khas dengan menyatukan kelompok yang tadinya bercerai-berai, Aus dan Khajraz,  dengan kekuatan keyakinan ideologi Islam. Kelompok kecil yang tadinya bercerai-berai ini mampu mengalahkan kekuatan Quraisy yang secara fisik lebih kuat.  Strategi perubahan kekuasaan ini terbukti sangat canggih dan memiliki kekuatan ideologi yang optimal.

Muhammad Syeit Khaththab, seorang jenderal dari Irak,  dalam bukunya Ar-Rasûl al-Qâ’id (Rasulullah saw. sang panglima) menorehkan  strategi peperangan yang ditempuh oleh Rasulullah saw. Beliau adalah seorang panglima besar bukan hasil warisan atau keturunan.   Beliau adalah panglima besar yang berawal dari seorang anak yatim.  Suatu prestasi yang tidak pernah terwujud oleh panglima perang sepanjang sejarah.

Rasulullah saw. pada prinsipnya mempunyai  dua keistimewaan dibandingkan para panglima perang yang lain di sepanjang zaman dan tempat.  Pertama, beliau adalah seorang panglima ‘ishâmi’  (bersih dan terpelihara).     Kedua, peperangan-peperangan yang dilakukannya adalah untuk membela dakwah Islam, melindungi kebebasan penyebaran Islam, serta mengokohkan sendi-sendi perdamaian; bukan bermotif permusuhan atau merampas dan menjajah.
Fase perjuangan jenderal agung ini dimulai dari fase konsolidasi, fase mempertahankan akidah, fase ofensif, dan fase stabilisasi.  Dengan perkembangan yang sangat logis ini, meningkatlah secara berangsur-angsur posisi panglima ‘ishâmi’  ini dengan kekuatan pendukungnnya dari posisi lemah menjadi kuat; dari posisi defensif menjadi opensif; kemudian melakukan penyerbuan.  Dengan posisi yang amat gemilang itu, Rasulullah saw. mengalahkan semua kehebatan panglima di sepanjang periode sejarah, karena ia berhasil melahirkan suatu kekuatan besar yang memiliki akidah dan tujuan yang satu, dari sesuatu yang tidak terwujud sebelumnya.

Rasulullah saw. juga adalah seorang hakim (qâdhî) yang adil dalam berbagai keputusan pengadilan. Ketika beliau melakukan ‘sidak’ ke pasar, beliau melihat pelaku pasar melakukan kecurangan, yakni dengan meletakkan barang basah di bawah, di atasnya barang yang baik dan kering untuk memberatkan timbangan.  Ini tentu akan  merugikan konsumen.  Kemudian Rasul memasukkan tangannya untuk mengecek kecurangan ini, lalu beliau bersabda (yang artinya), “Bukan tergolong ummatku orang yang melakukan penipuan terhadap kami.”

Keadilan beliau juga jelas pada khutbah beliau (yang artinya), “Siapa yang pernah hartanya aku ambil, inilah hartaku, maka ambillah.  Siapa yang punggungnya pernah aku cambuk, maka sekarang cambuklah punggungku atau  qishâsh-lah.”
Sebagai seeorang ekonom, beliau bisa kita contoh dari sisi mikro maupun makro. Rasulullah saw. menjadi orang terpercaya di Makkah.  Meskipun orang Makkah memusuhi beliau sebagai rasul, secara pribadi keamanahan beliau diakui.  Beliau adalah tempat menyimpan wadiah (titipan).  Pondasi ekonomi secara mikro adalah kepercayaan. Ketika hijrah, titipan dikembalikan semua. Secara makro, sistem ekonomi yang beliau bangun adalah sistem ekonomi yang memberikan kemakmuran real secara individual, bukan kemakmuran semu seperti yang ada pada sistem kapitalis.

Kesimpulan

Cara mencintai dan mengagungkan Rasulullah saw. adalah dengan meneladani Rasulullah saw. secara total, tidak boleh secara parsial.  Satu-satunya cara untuk mewujudkan tujuan agung di atas adalah dengan melangsungkan kembali kehidupan Islam secara total di bumi ini. Wallâhu a’lam.

(disarikan dari al-wa’ie April 2005)

Satu Tanggapan

  1. artikel ini menyoroti Rasul secara jernih dan rasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: