Bunda

By: bunda Nabila

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Fikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua tentang riwayatku
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang…….

Kudengar lagu Melly Goeslow itu disuarakan oleh mulut mungil anakku,entah dia mengerti atau tidak makna dari apa yang dia lantunkan. Aku menyadari betul betapa tugas seorang ibu bukanlah tugas yang ringan, sungguh aku rasakan hal itu.
Ayo….hanna,kamil bangu….n, tak lama matahari nonggol,kapan shalat subuhmu,ayo cepat! Hampir tiap hari aku harus membiasakan pada anak-anak untuk bangun pagi, tak terkecuali pagi ini,aku harus juga menyiapkan segala sesuatu untuk persiapan pergi ke Pacitan.Mulai dari minuman,snac.mainan dsb.yah…pagi ini ada acara seminar di Pacitan tentang PAUD dan aku diminta panitia untuk menjadi pembicaranya.Semua anak-anakku berencana ikut,Hanna yang sudah kelas satu dan adiknya Kamila yang berusia 3 th, sekalian refresing.
Bus yang membawa kami ke Pacitan tak juga kunjung datang,
Rencana berangkat pukul 09.00 pagi,tertunda hingga pukul 11.00 Siang.”Bunda, aku capek,kok lama tidak nyampek” seru Hanna,
“Yang sabar to mbak”, kata adiknya menghibur kakaknya.Demiakanlah setiap kali perjalanan kak Hanna selalu kurang sabar di perjalanan.Adik Kamil dengan keceriaannya selalu bertanya dan berkomentar,sehingga perjalanan yang tadinya membosankan sedikit terhibur dengan celoteh lucu sang adik.
“Allahu Akbar!jerit kedua anakku tatkala jalanan menanjak,”wuik jalannya berliku-liku seperti ular”ujar Kamila spontan.
Dengan merambat bus kamipun sampai di Desa Panggul yang letaknya diatas gunung,dari pacitan masih 3 jam lagi.
“Bunda….bunda….lihat,di bawah itu ada pantai, indah sekali ya bunda,” kata Kamil dengan senang,karena melihat sesuatu yang baru.”iya, kita mesti bersyukur telah diberi Alloh mata untuk melihat,sehingga kita bisa menikmati keindahan pantai Pelang itu.
“Yang punya pantai itu siapa bunda” Tanya kak Hanna.”Yang punya Allah”, jawabku sambil memperkuat pegangan tangganku ketubuh kamil yang ada dipangkuanku,tatkala jalanan mulai turun,
“wa….h tebingnya curam sekali,hati-hati pak sopir,”teriak Kamil kala posisi bus ada ditepi jurang.
Hanna yang dari tadi terdiam sambil memperhatikan sekelilingnya angkat bicara.”siapa yang punya tebing itu bunda?”Sambil tersenyum kujawab “Allah”.kalau gunung yang tinggi di depan kita itu punya siapa?”selidik Hanna penuh rasa ingin tahu.Sambil kuusap kepalanya kujawab, “Yang punya Allah”.
“Bunda,mengapa gunungnya kok gundul tak ada tanamanya?”tanya Hanna tatkala kami melewati gunung-gunung yang gunduk.Spontan Kamil menjawab “karena pohonnya dipotong, seperti rambutku,kalau dipotong bunda jadi gundul kepalaku ha….ha….”.Gundul pacul “timpal Hanna sambil tertawa”.Mbak…,mbak…,lihat sungainya panjang berbelok-belok,seperti ular, apik ya mbak”.kata Kamila sambil tangannya digerak-gerakkan menirukan ular sedang berjalan.
“Sungai itu juga milikNya ya bunda”,seru Hanna,dengan senyuman kujawab pertanyaan Hanna,sebagai tanda,jawabannya benar.
“Bunda,jika pantai,laut, gunung, sungai semua punya Allah,kita punya apa bunda?”….Apa?”reaksiku spontan.Aku tak menyangka jika jawbanku tadi mengantarkan pada pertanyaan lain, diluar perkiraanku.Memang anak-anak sering kali melontarkan pertanyaan yang tidak diduga oleh orang tuanya, termasuk, Hanna,anakku.Sejenak aku berfikir, untuk memberi jawaban yang bisa difahami oleh anakku yang masih berusia 7 tahun.
“Nak, kata Allah dalam Al Quran, bahwa semua yang ada di langit dan di bumi kepunyaan Allah,Kita sebagai orang yang beriman punya Allah,maka kita diperintahkan oleh Allah untuk mencari dan menggunakan harta milik Allah ini sesuai dengan peraturan Allah. Misalnya tidak boleh mencuri tapi harus bekerja, Hutannya tidak boleh digunduli,nanti bisa banjir, jika pohon yang sudah tua ditebang harus ditanami lagi dengan pohon baru,dan lain.Allah memberi aturan agar manusia hidupnya enak dan selamat”.
Sambil menjelaskan kuamati disekelilingku, siapa tahu ada sesuatu yang bisa memudahkanku untuk menjelaskan pertanyaan Hanna.
Jalanan terus menanjak,kemudian turun dan berkelok-kelok,hamper 30 sd 50 meter ada rambu baru, kupikir inilah kesempatan untuk memberi penjelasan pada buah hatiku.
“Hati-hati sering terjadi longsor!berarti disini sering longsor ya bunda”. Kata Hanna usai membaca rambu lalin.”iyalah”,seruku dengan intonasi menirukan anak-anak sekarang.
“Hanna,lihat itu ada rambu lalin lagikan, itu artinya apa?” tanyaku.”Nggak tahu”. Jawab Hanna,” itu bererti tikungan tajam.coba kamu amati di pinggir jalan itu sambil kau hitung ada berapa rambu lalin yang telah kau lewati”. Ajakku pada Hanna.
Hanna mulai menghitung, 1,2,3,4…..Sementara itu kamila tertidur dipangkuanku, Perjalanan ke Pacitan memang melelahkan, butuh waktu antara 7 sd 8 jam dari Kediri dengan kendaraan umum,maka wajar jika Kamila tertidur di perjalannan,dan Hanna sudah tidur duluan ketika perjalanan dari Kediri-Trenggalek.
“Bunda.rambu lalinnya banyak sudah lebih 17, aku capek menghitungnya . Sudah ya bunda, tawar Hanna pada tugas yang kuberikan. “Iya, jawabku sambil tersenyum.
“Nak,rambu yang kamu hitung tadi banyakkan, kira-kira untuk apa pak polisi memasang banyak rambu lalin di sepanjang jalan tadi?” tanyaku pada Hanna.
“Ya…. agar pak sopirnya tahu,jalannya mau belok,mau naik,turun,sering longsor,sehingga pak sopirnya hati-hati”. Jawab Hanna.
“Wah…..hebat, jawaban yang tepat” kataku.
“Kalau pak sopirnya mengikuti rambu lalin dan hati-hati,kemungkinan bisa sampai tujuan apa tidak?”tanyaku pada Hanna.
“Ya…selamat sampei tujuan dong”, jawab Hanna spontan.
“Nah,aturan Allah itu hampir sama dengan rambu lalin yang dipasang Pak polisi,bedanya,kalau rambu lalin tadi mengantarkan kita agar selamat sampai terminal Pacitan.Kalau aturan Allah diikuti menyelamatkan kita di dunia dan diakirat nanti sebagai terminal akhir manusia. Kita dapat surga dari Allah, karena di dunia kita ikuti rambunya Allah”.
Hanna tampak mendengarkan dengan khusuk,entah dia mampu memahami dengan baik atau belum, dalam hati aku berdoa semoga Allah menjadikan anak-anakku ini anak-anak yang selalu taat pada Nya.
Alhamdulillah, kami sudah sampai, teman-teman panitia seminar sudah menjemput kami, untuk diantar ke rumah salah satu pantia,agar kami bisa beristirahat.

*Dalam rubrik ini, setiap Bunda bisa mengirimkan tulisan perihal cara mendidik anak dalam bentuk cerita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: