Bukan Cinta Semu

Bulan Februari diidentikkan dengan bulan kasih sayang. Hal tersebut merupakan pengaruh budaya barat yang tumbuh subur di Indonesia. Akibatnya, masyarakat muslim yang menjadi mayoritas di negeri ini tak lepas dari demam V-day (baca: Valentine’s day). Bulan Februari, tepatnya tanggal 14 dianggap sebagai hari yang sakral bagi orang-orang yang memiliki cinta dan kasih sayang di hatinya. Hari tersebut juga  dianggap sebagai hari yang tepat untuk mengungkapkan sekaligus membuktikan ketulusan cinta seseorang kepada orang-orang yang dicintainya, terutama orang terkasih yang biasanya belum resmi menjadi pendamping hidupnya. Kebiasaan V-day yang telah menjadi hari ‘besar’ bagi masyarakat Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini, semakin jelas menampakkan betapa jauhnya masyarakat terhadap Islam, agama yang telah menjadi pilihannya dan identitas yang senantiasa melekat dalam dirinya. Kenyataan ini seolah mengisyaratkan bahwa Islam bukanlah agama yang sempurna karena tidak mengajarkan nilai-nilai kasih sayang, sehingga pemeluknya harus mengadopsi  dari agama maupun budaya lain. Sungguh ironis!
Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan. Namun, hal ini merupakan konsekuensi logis dari ketidaktepatan penerapan sebuah sistem kehidupan. Pluralitas yang ditumbuhsuburkan di negeri ini telah menuai hasilnya. Kebebasan bertingkah laku yang sekian lama diajarkan melalui sinetron, film, musik, iklan, dan sejenisnya kini telah memetik buahnya. Walhasil, potret kehidupan ala barat yang serba bebas telah mendapatkan duplikasinya. Jika sudah begini yang untung besar pastilah para pengusaha dan pemilik modal. Dengan memanfaatkan momen tersebut, ’dagangan’ mereka laku keras. Baik berupa pernak-pernik yang berwarna pink / merah muda, coklat, serta berbagai tayangan maupun hiburan yang menjajakan hedonisme (memburu kesenangan hidup) serta permissivisme (perilaku yang serba boleh) dalam balutan tema cinta dan kasih sayang.  Pada akhirnya, kaum muslim semakin kehilangan identitas serta harga dirinya. Selanjutnya, mereka akan senantiasa dibidik sebagai target market untuk memasarkan (baca:memaksakan) pemikiran-pemikiran barat beserta produknya yang senantiasa menjunjung tinggi kebebasan.
Kondisi ini tentu saja bukanlah sesuatu yang sudah seharusnya terjadi. Sekalipun tidak sedikit orang yang mengatakan ’tak ada yang bisa kita perbuat, kecuali hanya menonton kehancuran masyarakat kita sendiri, meski kita tidak menginginkannya’, pendapat ini harus dipatahkan. Adanya akal yang sehat bisa untuk berpikir, tangan dan kaki yang sempurna bisa untuk bergerak, tekad yang bulat disertai niat tulus ikhlas untuk menggapai ridlo Alloh, adalah modal yang cukup untuk melakukan perubahan. Alloh  SWT berfirman dalam QS. Ar-Ro’du [13];11yang artinya: Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah keaadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Marilah kita menjadi pioner, penggerak, pelaku dalam perubahan ini. Sebagai langkah awal, kita ajak diri dan orang-orang terdekat kita untuk tidak menjadi pembebek alias pengekor, sebagai contoh  di bulan Pebruari ini. Karena ternyata, kasih sayang yang bertabur coklat dan pernak-pernik berwarna pink ini merupakan kebiasaan kaum kristiani. Rasululloh SAW menegaskan, ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk salah seorang dari mereka” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Ath-Thabrani). Selayaknya, kita tidak ingin dikategorikan ke dalam golongan orang-orang non muslim oleh Sang Pemilik Surga, karena sejatinya kita seorang muslim.  Cobalah kita buka mata, telinga, hati, dan pikiran kita kepada Islam.  Bagaimanakah Islam mengajarkan indahnya cinta dan kasih sayang dengan dorongan keimanan disertai ketulusan yang tiada akhir. Subhanalloh !
Indahnya Kasih Sayang dalam naungan Syari’ah
Cinta sering membuat orang buta. Atas nama cinta, orang rela melakukan apa saja demi orang atau sesuatu yang dicintainya. Karena cinta, seorang suami rela bekerja selama 18 jam sehari untuk anak istrinya; seorang ibu rela bersusah payah saat hamil dan menahan sakit yang luar biasa saat melahirkan demi sang buah hatinya; seorang gadis rela menyerahkan keperawanannya kepada pujaan hatinya; seorang suami rela mengkorupsi uang ratusan milyar rupiah demi permintaan istri tercintanya; dan sebagainya. Karena cinta, hidup manusia jadi penuh warna, ada bahagia, sedih, duka, kadang merana serta putus asa. Seringkali manusia memenuhi gelora cinta berdasarkan hawa nafsunya. Itu sebabnya, Islam tidak membiarkan pengendalian cinta di tangan manusia.
Alloh SWT adalah Dzat Yang Maha Kasih (ar-Rohman)dan Dzat Yang Maha Sayang (ar-Rahman). Salah satu buktinya, Alloh tidak membiarkan manusia hidup dalam kesengsaraan akibat aturan kehidupan produk akal manusia sendiri yang dipenuhi dengan keterbatasan. Alloh Maha Tahu dan Maha Adil, Dia tahu setiap manusia tidak minta untuk dihidupkan. Itu sebabnya, Alloh menyertakan aturan setelah diciptakan-Nya manusiv.  Aturan yang terwujud dalam Syari’ah Islam diturunkan melalui Rasululloh Saw untuk mengatur sekaligus memecahkan  seluruh problematika kehidupan manusia. Syari’ah mengikat seluruh aktivitas manusia yang telah beriman kepada-Nya. Secara jelas dan tegas Alloh memerintahkan orang-orang mu’min mengikuti Rasululloh Saw, menunduki setiap perintah dan menjauhi larangan yang beliau bawa (QS. Al-Hasyr [59]:7 ). Termasuk dalam hal cinta dan kasih sayang.
Menurut Al-Baidhawi “Cinta adalah keinginan untuk taat” .  Karena itu, cinta bagi seorang Muslim tidak boleh mengalahkan kecintaannya kepada Al-Khaliq, Alloh Swt, Dat yang telah menciptakannya dan melimpahi lautan nikmat yang tiada terukur sepanjang hari, di setiap waktu. Pada urutan kedua di saat yang sama, cinta seorang muslim juga harus diarahkan kepada Rasulullah saw, manusia termulia yang sangat cinta terhadap seluruh umatnya. Mari kita merenungkan firman Allah Swt. berikut:

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, dan kaum keluarga kalian; juga harta dan kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya,  maka tunggulah  sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya.” Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS at-Taubah [9]: 24).

Firman Allah di atas sekaligus merupakan dalil bahwa seorang Muslim wajib mendudukkan kecintaan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya pada urutan teratas. Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya ini sekaligus menjadi parameter untuk menakar kadar keimanan seorang Muslim.
Pada urutan berikutnya, seorang muslim diperintahkan untuk mencintai muslim yang lain, entah suaminya, saudaranya, orang tuanya, maupun sahabatnya berlandaskan cintanya kepada Alloh dan Rasul. Saling cinta antara mereka atas dorongan keimanan tersebut akan berbuah surga. Alloh pun telah mempersaudarakan orang-orang yang beriman (QS. Al-Hujurat [49]:10 ). Tak heran jika cinta dan kasih sayang di antara mereka sangat dekat lagi erat. Dalam hadits Nu’man bin Basyir, Rosululloh Saw bersabda :
”Perumpamaan orang-orang mu’min dalam hal berkasih sayang dan saling cinta mencintai dan mengasihi di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan demam”.
Subhanalloh, betapa indah kasih sayang ini. Seorang muslim dituntut untuk berkasih sayang bukan saja kepada orang-orang yang diinginkannya tapi kepada setiap mu’min di segala tempat, di setiap waktu.  Dengan kasih sayang ini, kaum muslimin tidak akan pernah merasakan penderitaan seorang diri, melainkan selalu ada uluran tangan saudaranya dari belahan dunia yang lain. Manifestasi cinta dan kasih sayang seperti ini tentu saja tidak cukup dengan setangkai bunga mawar, pernak-pernik berwarna pink, ataupun coklat.  Lebih dari itu, curahan tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa akan diberikan sebagai buktinya. Landasan keimanan inilah yang menjadi dorongan kuat hingga memunculkan sebentuk cinta dan kasih sayang yang demikian dahsyat wujudnya.
Ketika cinta dan kasih sayang ini telah mampu tersalurkan, manisnya keimanan baru dapat dirasakan. Nabi Saw bersabda:
”Siapapun tidak akan merasakan manisnya iman, hingga ia mencintai seseorang tidak karena yang lain kecuali karena Alloh semata” (Hadits dari Anas bin Malik yang dikeluarkan oleh al-Bukhori).
Berdasarkan hadits-hadits  Nabi Saw, perilaku yang disunnahkan bagi saudara yang saling mencintai dan mengasihi karena Alloh adalah sbb :
–    Mengabari saudara dan memberitahukan cintanya kepadanya.
–    Mendoakan saudara saat tidak sedang bersama.
–    Meminta doa dari saudaranya.
–    Mengunjungi orang yang dicintai, duduk bersamanya, saling menjalin persaudaraan, dan saling memberi karena  Alloh.
–    Mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri,.
–     Membantu kebutuhan saudaranya dan bersungguh-sunguh dalam menghilangkan kesusahannya.
–    Menampakkan hal-hal yang menggembirakan saudaranya.
–    Menampakkan wajah yang berseri-seri setiapkali menemui saudaranya.
–    Memberikan hadiah kepada saudaranya.
–    Menerima pemberian hadiah dari saudaranya apapun bentuknya dan membalalasnya, tentu saja sesuai kemampuan, atau cukup dengan pujian (terima kasih) serta tidak mengingkari  adanya pemberian tersebut.
–     Membela saudara supaya mendapat kemudahan dari suatu kesulitan.
–    Melindungi kehormatan saudara saat tidak ada di dekatnya.
–    Wajib menerima maaf , menjaga rahasianya, dan menasehatinya.
Demikianlah Syari’ah Islam mengajarkan dan menetukan hukum-hukum tentang cinta dan kasih sayang. Indahnya dapat dirasakan sepanjang masa, ketulusannya dapat berbuah surga, pelakunya menggapai cinta Sang Penguasa Alam Raya. Masihkah kita tetap bertahan pada opini semu sebuah cinta dalam setangkai bunga, sebatang coklat, ataupun segenggam benda berwarna pink? Wallohu a’lam bish-showwab.

(Mbak  Dien)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: