Tokoh Bicara “Valentine Day”

Biodata singkat
Nama    : Dra. Hj. Retno Indayati, M.Si.
TTL    : Trenggalek, 25 Maret 1953
Alamat Rumah: Kudusan 35 A RT 03/RW 01, Plosokandang, Kedungwaru Tulungangung.
Alamat Kantor: Kampus STAIN  TA. Jl Mayor Sujadi Timur 46 T A
Keluarga:
Suami    : Suwignyo Guntoro
Anak-anak:
1. Rahma Praptin Zuhaira
2. M. Alfan Pujianto
3. Mirza Zumairi

Pendidikan:
1.    Sekolah Rakyat Trenggalek
2.    PGA
3.    IAIN Malang (S-1)
4.    UMM Malang (S-2)
5.    UIN Malang (S-3)
Pengalaman Organisasi:
HMI

Prolog
Bulan Februari baru saja berlalu.  Masih segar dalam ingatan kita aura dan pesona merah jambu di bulan tersebut. Ada apa dengan bulan yang satu ini, kok banyak terpampang gambar hati merah jambu?  Diantara meriahnya warna merah jambu, terdapat tulisan besar ”Happy Valentine Day”.  Di TV, Radio, majalah bahkan koran seolah tidak ingin ketinggalan menampilkan iklan Valentine, misal dengan jalan memanfaatkan momen ini melalui penyelenggaraan acara-acara yang super ‘busyet’, serta dimeriahkan oleh remaja putra-putri yang sedang asyik-asyiknya gaul.  Bagaimana sebenarnya V-Day itu?  Mengapa banyak remaja muslim yang ikut-ikutan merayakan V-Day?  Dan bagaimana pandangan Islam terhadap perayaan V-Day, serta sikap seperti apa yang seharusnya diambil oleh para remaja muslim?  Lalu, bagaimana pula membentengi remaja muslim dari pengaruh budaya asing?  Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, kami mewawancarai Ibu Dra. Hj.Retno Indayati, M.Si di sela-sela kesibukan beliau sebagai Pembantu Ketua I STAIN Tulungagung.  Berikut petikan wawancaranya:

T    :  Bagaimana tanggapan itu terhadap remaja (khususnya remaja muslim) yang ikut merayakan V-Day pada setiap bulan Februari?
J    : Dunia remaja adalah dunia dimana para remaja sedang mencari identitas diri.  Jika pencarian identitas diri ini tidak berproses melalui pemahaman yang shokhih (baca:Islam) maka yang tampak adalah seperti fenomena saat ini.  Jika trennya adalah pacaran, maka mereka ikut-ikutan pacaran, jika trennya hura-hura di tahun baru, mereka ikut-ikutan hura-hura, dan jika trennya merayakan V-Day, mereka ya ikut-ikutan.  Remaja yang tidak ikut-ikutan tren tersebut dianggap tidak “gaul”.
T    :    Terus menurut Ibu..bagaimana seharusnya remaja muslim bersikap terhadap tren yang muncul, dalam hal ini V-Day?
J    :    Merespon adanya tren yang bukan berasal dari Islam dalam hal ini V-Day, sikap remaja muslim seharusnya adalah berusaha memahami apa sebenarnya V-Day itu, darimana asalnya budaya itu, apa maksud perayaan V-Day itu, hingga bagaimana fakta perayaan V-Day tersebut.  Dan, terakhir mereka harus mengetahui bagaimana hukum merayakannya.  Setelah dipahami bahwa V-Day tidak ada sangkut pautnya sedikitpun dengan corak hidup seorang muslim, maka sikap yang tepat dapat diambil yaitu meninggalkan budaya V-Day alias tidak ikut-ikutan merayakannya.
T    :    Tapi Bu..budaya V-Day cepat merebak dan mudah sekali diikuti oleh remaja muslim, tentu ada beberapa faktor pendukungnya, bisa Ibu menjelaskan?
J    :    Tepat sekali, budaya V-Day bisa menjadi tren yang mudah sekali ditiru dan diterima oleh remaja muslim tentu bukan tanpa sebab apa-apa.
Pertama, kita bisa melihat.  Ketika paham saat ini yang dianut adalah paham kebebasan, maka apapun serba bebas, sekalipun bertentangan dengan akidah Islam.
Kedua, keluarga, masyarakat, sekolah/lembaga pendidikan, dan negara (baca:Pemerintah) tidak berperan maksimal dalam melakukan upaya asah dan asuh kepada remaja.  Keluarga, banyak yang tidak memberi bekal akidah dan pembinaan kepribadian Islam kepada anak-anaknya.  Sehingga, ketika budaya luar yang merusak masuk ke anak, keluarga tidak mampu membentenginya, mereka lemah dan cenderung diam.  Terus masyarakat, sedikit sekali saat inii ditemukan masyarakat yang memberi pengaruh positif atau memberi contoh-contoh yang baik kepada remaja.  Demikian pula dengan lembaga pendidikan.  Kurikulum yang diberikan kepada anak-anak didiknya belum mampu mewujudkan generasi /out put yang berakhlaqul karimah.  Ini jelas, karena sistem yang mendominasi negeri ini adalah Kapitalis-Liberal, baik ekonomi, politik, maupun budaya.  Nah bisa dipastikan pendidikan ya ikut Kapitalis-Liberal.  Terakhir pemerintah, saat ini pemerintah tidak kritis dan cenderung tutup mata terhadap hal buruk dari kebebasan, dalam hal ini yang sangat berperan juga adalah kebebasan media dalam menyuguhkan tontonan-tontonan yang negatif.
T    :    Kalau begitu, apa yang harus dilakukan?
J    :    Ya..keempat pilar di atas harus bersinergi untuk mewujudkan genarasi yang berakhlak, dan saling mengkontrol.
T    :    Terakhir apa pesan Ibu untuk para remaja muslim?
J    :    Wahai remaja muslim, lakukan Iqra’    sekarang juga, maknanya, carilah, kajilah dan dalami informasi-informasi dari ajaran Islam.  Dari mulai, apa sih Islam itu?  Mengapa aku memilih Islam?  Apa sih Al Qur’an dan Hadits itu?  Dari Iqra’ ini, maka akan ditemukan sebuah pemahaman hidup, yang kemudian ruh Islam akan selalu muncul dalam setiap tingkah lakunya.  Jadi iman, Islam dan ihsan berjalan beriringan.  Ketika akan berbuat atau beraktivitas, remaja muslim akan berpikir dulu, apakah aktivitas atau  perbuatan ini diridhoi oleh Allah SWT atau tidak?

(Mbak Siti)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: