Musim Yang Telah Pergi

By Irma Arifah

Cobalah tengok ke belakang
Adakah yang masih tertinggal
Adakah yang masih tersisa
di antara berseraknya dedaunan yang rela menanggalkan
hijaunya dari ranting-ranting dahan
selain jerit tangis pilu yang memilukan
Anak yang kehilangan ibu bapaknya
Ibu yang kehilangan suami, juga anaknya
Oleh tangan siapa luka atas dera coba yang menganga
Kepedihan atas kemalangan sekelabat kehidupan fana
Rumah tempat singgah, singgasana buat menghitung duka demi duka
luluh lantak porak poranda dihantam kepergian
sepercik cahaya dari jiwa-jiwa yang alpha
Cahaya keabadian yang dicampakkan
dan nafas hidup yang tak diseiramakan dengan firman Tuhan
Kemana kita cari udara buat nafas anank cucu kita
yang telah dijarah dengan serakah
Kemana kita cari, kemana lagi
tatkala semua telah pergi
Meninggalkan kita dalam sunyi, dalam pedih perih
Tak henti-henti…….
Tak henti-henti…….
Musim kemarin telah pergi
Untuk selamanya…..
Tanpa kita tahu, musim yang kan datang sesudahnya
Menjemput kita dengan sepenuh jiwa, lalu bukakan pintunya untuk kita-kah dia ?
Menghapuskan sejuta keluh kesah dan trauma
Mereka yang terpenjara oleh dinding-dinding keras tarikan-hentakan kuat pemikiran dan perasaannya
yang tak hanya menyesakkan dada di antara dua bahu mereka sendiri
Namun, mampu meluluhlantakkan sebuah propinsi, menenggelamkan sebuh pulau dalam air bah
Yang memerah……., menggoncangkan pasak-pasak bumi, meluap dan memuntahkan isi perut bumi……….
Ke kampung-kampung kenyamanan dan keteduhan para pengembara……
Ya………musim yang lalu akan berlalu selamanya
Namun, tak cukup seucap ”selamat tinggal” , kiranya
Karena, senyum getir dan tangis kita masih ada di sana   
Tak habis-habis hingga tumpah
ke pelimbahan umur dunia
Akankah sepanjang hembus nafas kita berkubang dalam nestapa?
Kemana mesti kita beli dengan uang receh yang masih tersisa; senyum tawa, riang canda
oleh-oleh buat anak-cucu kita nanti …
menghantarkan langkah-langkah kaki gontai di hamparan permadani keindahan dan kedamaian,
Kebaikan nan penuh keberkahan …
di bawah bendera yang berkibar megah
oleh air mata dan cucuran darah mujahid-mujahidah
Wahai musim yang telah pergi
cukuplah sudah airmata kami, cukup sudah derita ini
bawalah serta pergi dan jangan pernah kembali lagi !
Musim eaok ’kan kami jelang
tapaki bersama riuhnya perjuangan
demi tegaknya kalimah-kalimah Rabb Semesta Alam, raih kembali kemuliaan panji-panji Islam.

Ya Rabb … tolonglah kami
Kuatkanlah kami dengan pertolonganMu, Ya Ilahi …
Berikanlah kami pertolongan yang menopang dan menguatkan
atas bencana musibah yang selalu mendera kami
kami insyafi kepongahan,kealpaan, kekhilafan, kekeliruan dan dosa-dosa kami
Mohon dengan sangat, bukakanlah pintu-pintu hati yang masih terkunci
agar cahayaMu mampu menerobos masuk dan menerangi
kegelapan bilik-bilik hati yang sunyi
agar Firman-Mu tidak hanya berhenti di laci-laci meja dan almari
atau di bibir-bibir para da’i
agar perintah dan larangan-Mu benar-benar menjadi
hiasan bagi tiap hentak kaki dan denyut nadi
hingga kembali hakekat tiada kami… …
Amin Ya Mujiibassaailiin.

02.00 WIB –
Buat saudara-saudaraku seperjuangan, spesial buat saudara-saudara yang menjadi korban bencana alam, semoga Allah kurniakan kesabaran
*060108*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: