Sobat, Lindungi Jiwamu dari Tradisi Jahiliyah

Seperti matahari yang tiada lelah bersinar atau air yang terus mengalir dari hilir ke hulu. Demikianlah perbincangan mengenai cinta. Lidah takkan kelu untuk membicarakannya, hati tiada berhenti untuk berdebar, dan akal tidak pernah kehabisan stok kata-kata untuk menggambarkan keindahannya. Sahabat, cinta menjadi inspirasi bagi semua aktivitas di bumi ini, alasan untuk saling mengenal, berkorban, dan mengikat kesetiaan. Tanpanya, kehidupan laksana pepohonan yang kering kerontang dan dunia akan diliputi kebencian dan kedengkian antar sesama. Sehingga, eksistensi manusia akan musnah dalam hitungan waktu.
Sahabat, Maha Suci Allah yang telah memberikan potensi cinta dalam jiwa kita. Betapa rasa ini bisa diungkapkan dengan berbagai macam cara. Senyuman di pagi hari, sapaan tulus, ataupun nasihat sederhana bisa menjadi bukti bahwa kita saling mencintai. Sahabat, kita pun sama-sama telah merasakan betapa kesederhanaan cinta yang disalurkan secara tulus baik dari sahabat terdekat, ortu, maupun orang-orang tercinta adalah kontribusi terbesar yang mendewasakan kita selama ini. Tiada mungkin kita bisa tumbuh dan berkembang seperti sekarang tanpa pendampingan cinta yang murni. Bersyukurlah, karena kita telah dianugerahi dan dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki sebentuk rasa mulia ini. Namun, jangan salah! cinta bisa pula membawa petaka. Sahabat, ketika air mengalir dengan kekuatan besar dan tanpa ada kendali tentu akan merusak lingkungan dan mencipta musibah banjir. Demikian pula gelombang cinta. Ketulusan hati akan berubah menjadi nafsu dan ambisi tatkala tercurahkan tanpa batas dan kendali. Oleh karena itu, love needs rules. Sehingga, penyaluran cinta di kehidupan sesuai dengan maksud sang Pencipta menganugerahkan potensi ini dalam jiwa kita yaitu, menentramkan jiwa dan melestarikan kehidupan manusia. Baca lebih lanjut

Anak saya tidak mengerti kalau di-lulu

Bersama Sri Ambarwati, SE (Ketua Biro Peduli Anak YBU l-Mustanir)

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Ibu pengasuh Tanya Jawab Permasalahan Anak, saya mempunyai anak usia lima tahun, akhir-akhir ini saya agak bingung menghadapinya. Masalahnya anak saya kalau dilarang seperi disuruh, kalau disuruh seringkali mogok atau membantah. Kadang-kadang saya jengkel juga, sehingga kalau dia melakukan kesalahan saya katakan yang sebaliknya (Bhs. Jawa nglu-lu). Tapi sepertinya anak saya tidak mengerti kalau sedang dilu-lu. Bagaimana Bu, saya tolong dibantu.

Bu Hanik,

Rejoagung

Wa’alaikumussalam. Wr. Wb.

Ibu Hanik yang budiman. Pada dasarnya setiap anak ingin selalu disayang oleh orangtuanya terutama ibunya. Untuk anak ibu, cobalah merubah gaya mendidik anak. Tolong Ibu kurangi kata-kata yang berupa perintah dan larangan. Ajaklah anak untuk dialog, dan gunakan kata-kata yang bijak bila menyuruh sesuatu. Misalnya ketika anak sulit disuruh mandi katakan : “Anak Sholeh, Ibu akan senang sekali kalau kakak segera mandi”. Hindari kata-kata yang terkesan memaksa, misalnya : “Ayo mandi. Cepat”! Bila anak menolak, jangan keburu marah Bu, ajaklah berdialog. Misalnya ditanya “Apa yang menyebabkan kakak tidak segera mandi”? Dan apabila si anak melakukan sesuai keinginan kita, jangan lupa memberi imbalan baik berupa pujian, senyuman, ciuman atau pelukan sayang. (tidak harus materi). InsyaAlloh anak akan senang menerima imbalan dari kita, dan akan terus mencari apa yang membuat kita senang dan menyayangi dia.

Ibu Hanik yang sholehah. Berkenaan dengan kata-kata yang nglu-lu, anak usia lima (5) tahun akal dan perasaannya memang belum berkembang sempurna. Sehingga wajar saja jika dia tidak memahami kalau sedang dilu-lu. Misalnya ketika si kakak memukul adiknya, janganlah kita melarangnya dengan mengatakan “terus-terus”!atau berkata kepadanya “Bagus ya, sekarang sudah pandai membantah nasehat ibu”! atau “Senang lihat ibu sedih”? Tolong jangan gunakan kata-kata semacam itu, karena anak kita yang lugu akan memahami apa adanya dan belum mampu menganalisanya. Di sini, kita memang dituntut untuk senantiasa kreatif dalam memberi nasehat pada anak. InsyaAlloh lama- kelamaan anak akan mengerti karena nasehat Ibu akan terekam di alam bawah sadarnya, walaupun mungkin hasilnya tidak saat itu juga.

Terakhir kali, senantiasa do’akan setiap selesai sholat. Kita pasti yakin, tidak ada sesuatu yang sulit bagi Alloh Ta’ala, termasuk menjadikan anak kita menjadi anak yang sholeh. Amin.

Kiat Menghadapi Aksi Diam Anak

    Sebuah keluarga, suatu pagi di hari libur bersiap-siap berangkat ke luar kota. Rupanya mereka akan berkunjung ke rumah nenek. Jam 08.00 semua sudah siap. Tinggal si sulung, Reza (8 th) yang belum selesai mandinya.
Tidak biasanya Reza mandi berlama-lama seperti ini. Sampai-sampai Ibu tak sabar lagi. “Reza cepat mandinya. Ini sudah jam delapan. Nanti keburu siang!” teriak ibu menahan jengkel. Tapi Reza tetap mandi berlambat-lambat.
“Reza, dengar nggak! Cepat mandinya. Kamu ini ngapain sih? Teriak ibu lagi.
Ayah Reza yang sejak tadi sudah menunggu jadi ikut jengkel melihat tingkah laku anaknya.”Reza, kamu dengar nggak sih! Jadi anak yang baik dong!” kata ayah setengah membentak sambil menggedor pintu.
Menghadapi bentakan ayahnya , Reza segera menyulut pertengkaran mulut. Tak kalah sengit dia melampiaskan kemarahan kepada orangtuanya. “Ayah selalu membentak-bentak, maunya menang sendiri. Ibu juga jahat, tidak sayang sama Reza.” Pertengkaran mulut itu meluas. Mereka akhirnya tidak saja mempersoalkan Reza yang mandi lama.
Para orang tua sering menjumpai anaknya yang tiba-tiba menjadi seorang yang sangat pemalas, berlambat-lambat melakukan segala sesuatu, atau bahkan tidak mau melakukan apa yang sebenarnya dia bisa dan tidak mau menjawab pertanyaan.
Ia sengaja melakukan itu sebagai sikap negatif agar orang tuanya marah. Hal ini disebabkan adanya keinginan-keinginan yang menurut si anak tidak terpenuhi. Sehingga ia memancing kemarahan orang tuanya agar dia bisa melampiaskan kemarahannyajuga. Inilah yang disebut dawdling.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering menjumpai anak kita melakukan dawdling. Perilaku negatif ini dapat dilakukan anak sejak usia 3 tahun sampai dengan remaja akhir (sekitar usia 19 tahun).
Pada anak usia 4 tahun, misalnya dapat melakukan dawdling dengan berlambat-lambat makan. Makanan dimulut dibiarkan tanpa dikunyah. Pada anak yang lebih besar, akan lebih bervariasi karena mereka lebih mampu memilih tindakan yang jitu untuk membuat orang tuanya marah.
Dawdling memang mudah menyulut kemarahan. Tetapi dalam menghadapinya dengan menunjukkan kemarahan justru berpotensi menjadi bumerang karena tujuan anak untuk membuat marah, berhasil. Anak pun terpenuhi ambisinya untuk marah, sehingga terjadilah pertengkaran, yang kita semua tidak ada yang menginginkan.
Orang tua tidak perlu menghadapi dawdling dengan marah. Kunci keberhasilan menghadapinya justru terletak pada kesabaran untuk menahan diri agar tidak menampakkan kemarahan. Sebaiknya menunjukkan sikap santai seolah-olah tidak terjadi suatu peristiwa yang mengganggu.
Untuk mengetahui penyebab si anak melakukan dawdling, ajaklah dia berdialog. Tetapi bukan pada saat si anak sedang melancarkan aksinya, lain waktu ketika dia terlihat riang.
“Reza, ibu ingin tanya. Kenapa sih Reza kadang kok suka lama sekali kalau mandi?”  “Firda kadang-kadang kalau makan, dikunyah terus. Nggak ditelan-telan. Mengapa?” Dialog yang akrab antara orangtua dan anak insya Alloh akan menyelesaikan masalah-masalah yang muncul. Dengan dialog yang hangat orangtua dapat menjadi sahabat, panutan dan pemimpin secara efektif bagi anak.

(Sri Ambarwati, SE. dari berbagai sumber)

Menjaga Fitrah Anak

Dari Abu Hurairah,bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya
“Setiap anak yang dilahirkan itu telah membawa fitrah beragama (perasaan percaya kepada Allah); maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak tersebut, yahudi, nasrani, majusi, atau dia masuk ke dalam Islam”.(hadits riwayat Imam Al Bukhari)

Hadits ini menegaskan bahwa setiap anak yang lahir tidaklah kosong mlompong,melainkan sudah membawa potensi iman kepada Allah. Sehingga, jika pendidikan yang diterima anak di lingkungan rumah baik, mampu mengarahkan dan mengokohkan keimanan anak, pergaulan social mayarakat baik, serta tersedianya lingkungan belajar yang aman, murah, program yang mampu membentuk keimanan dan kepribadian Islam yang tangguh, maka tidak diragukan lagi anak akan tumbuh besar pada landasan iman yang kuat, akhlaq mulia dan mampu menyelesaikan problem kehidupan sesuai dengan ketentuan Syariat Islam.
Anak adalah amanah dari Allah, maka orang tua harus menjaga amanah tersebut dengan tetap menjaga fitrah keimanannya. Maka pendidikan pertama yang kita berikan pada anak-anak adalah tauhid/aqidah Islam. Sebagaimana Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita, beliau SAW bersabda dari Ibnu Abbas, yang artinya
“ Bacakanlah/bukalah kepada anak-anak kamu kalimat pertama dengan La Ilaha Illa ‘llah (tidak ada tuhan selain Allah)”.(HR Al Hakim)
Oleh karena itu orang tua, khususnya ibu harus melakukan proses pembelajaran pada anak sedini munkin, meski bayi masih dalam kandunagn. Pada minggu ke 20 kehamilan ibu, organ pendengaran bayi sudah terbentuk dengan sempurna, dan mulai berfungsi, bayi mulai bergerak, menimbulkan getaran-getaran halus yang hanya bisa dirasakan oleh ibu. Di dalam Islam, usia 20 minggu kehamilan telah melewati saat peniupan roh (nyawa).sudah selayaknya ibu memperlakukan si janin sebagai manusia, meski sangat lemah, kecil dan mungil. Orang tua, khususnya ibu mulai menerapkan pendidikan Islam kepada si janin dengan cara membiasakan perilaku-prilaku Islami, membaca Al Quran, berbahasa lembut lagi santun,mengajaknya bicara, membelai dengan sayang,dan sebagainya.
Ketika bayi lahir, syariat Islam mengajarkan agar dibacakan adzan ditelinga kanan, dan iqomah di telinga kiri. Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitabnya Tuhfatu ‘l-Maudud, Adzan dan iqomah yang dibacakan untuk bayi yang baru lahir akan memberikan manfaat antara lain:
yang pertama menembus pendengaran si bayi adalah kebesaran Allah dan Syahadah (persaksian) yang dengan syahadah seseorang masuk Islam. Hal ini juga merupakan pengajaran bagi si bayi tentang syariat Islam ketika si bayi memasuki dunia.
Larinya setan dari kaliamat-kalimat Adzan, sedangkan setan selalu menunngu kelahiran bayi untuk diikatnya, dengan Adzan setan mendengar apa yang dibencinya
Adzan juga mengandung makna dakwah kepada Allah dan Din Nya, Islam. Sehingga bayi yang baru lahir telah didahului dengan dakwah Islam. Bukan dengan seruan setan.
Makna adzan yang dikemukakan oleh Ibnu Qoyyim ini, kesimpulannya adalah orang tua harus menjaga dan menanamkan dengan kuat aqidah /keimanan anak, mengajari anak mengusir setan, dan mengendalikan hawa nafsu, sejak anak mencium bau dunia dan menghirup angin kehidupan. Apa yang dilakukan oleh orang tua, untuk selalu menjaga fitrah anak-anaknya, pasti akan berbuah kebaikan tidak hanya untuk kedua orang tuanya, tapi juga untuk umat ini.

Bunda

By: bunda Nabila

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Fikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua tentang riwayatku
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang…….

Kudengar lagu Melly Goeslow itu disuarakan oleh mulut mungil anakku,entah dia mengerti atau tidak makna dari apa yang dia lantunkan. Aku menyadari betul betapa tugas seorang ibu bukanlah tugas yang ringan, sungguh aku rasakan hal itu.
Ayo….hanna,kamil bangu….n, tak lama matahari nonggol,kapan shalat subuhmu,ayo cepat! Hampir tiap hari aku harus membiasakan pada anak-anak untuk bangun pagi, tak terkecuali pagi ini,aku harus juga menyiapkan segala sesuatu untuk persiapan pergi ke Pacitan.Mulai dari minuman,snac.mainan dsb.yah…pagi ini ada acara seminar di Pacitan tentang PAUD dan aku diminta panitia untuk menjadi pembicaranya.Semua anak-anakku berencana ikut,Hanna yang sudah kelas satu dan adiknya Kamila yang berusia 3 th, sekalian refresing.
Bus yang membawa kami ke Pacitan tak juga kunjung datang,
Rencana berangkat pukul 09.00 pagi,tertunda hingga pukul 11.00 Siang.”Bunda, aku capek,kok lama tidak nyampek” seru Hanna,
“Yang sabar to mbak”, kata adiknya menghibur kakaknya.Demiakanlah setiap kali perjalanan kak Hanna selalu kurang sabar di perjalanan.Adik Kamil dengan keceriaannya selalu bertanya dan berkomentar,sehingga perjalanan yang tadinya membosankan sedikit terhibur dengan celoteh lucu sang adik.
“Allahu Akbar!jerit kedua anakku tatkala jalanan menanjak,”wuik jalannya berliku-liku seperti ular”ujar Kamila spontan.
Dengan merambat bus kamipun sampai di Desa Panggul yang letaknya diatas gunung,dari pacitan masih 3 jam lagi.
“Bunda….bunda….lihat,di bawah itu ada pantai, indah sekali ya bunda,” kata Kamil dengan senang,karena melihat sesuatu yang baru.”iya, kita mesti bersyukur telah diberi Alloh mata untuk melihat,sehingga kita bisa menikmati keindahan pantai Pelang itu. Baca lebih lanjut

Berlibur

Oleh Salsabila Afiati*

Di hari Minggu keluarga Ahmad dan Fatimah berlibur ke pantai. Pagi-pagi sekali Ahmad dan Fatimah sudah bangun, kira –kira pukul 04.30 WIB. ” Ahmad, Fatimah, ayo sholat subuh dulu, baru kalian mandi.” kata ayah. Setelah sholat mereka berdua mandi secara bergantian. ”E……. Ahmad , sebelum masuk kamar mandi harus berdoa lho, hayo bagaimana doanya..? kata Fatimah. ”Oh iya kak, Ahmad hampir lupa, begini nih doanya…..allohumma inni ’a’u dzubika minal khubutsi wal khobaitsi” sahut Ahmad.
Setelah semua dalam rumah bersih, mereka semua berangkat rekreasi atau berlibur ke pantai. Sesampai di pantai, Ahmad dan Fatimah senang sekali, ” Anak-anak Ayah mau cari tempat parkir dulu ya….” kata Ayah. ” Iya yah ” sahut Ahmad dan Fatimah. ”Subhanallah indah sekali pantai ini ada lautan yang membentang, ikan-ikan yang banyak, dan nelayan yang melaut ” kata Ahmad. ” Ahmad , Fatimah, ayo ke sini makan dulu, ” kata ibu.
Setelah bersenang-senang cukup lama, keluarga Ahmad dan Fatimah pulang ke rumah. ”Anak-anak bagaimana dengan liburan tadi asyik tidak?” tanya Ayah ” Senang sekali Yah” sahut Ahmad dan Fatimah . ”Ya sudah sekarang kalian mandi saja daripada bau badannya,……ayo…ayo….ayoo…kata ibu.

*Penulis siswa kelas IV SDIT Darussalam Tulungagung.

Kisah Seorang Pendoa

Ketika kumohon pada Alloh kekuatan,
Alloh memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon pada Alloh kebijaksanaan,
Alloh memberiku masalah untuk kupecahkan
Ketika kumohon pada Alloh kesejahteraan,
Alloh memberiku akal untuk berpikir
Ketika kumohon pada Alloh keberanian,
Alloh memberiku bahaya untuk kuatasi
Ketika kumohon pada Alloh sebuah cinta,
Alloh memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong
Ketika kumohon bantuan,
Alloh membzeriku kesempatan
Aku tidak menerima apa yang aku pinta,
tetapi aku menerima segala yang kubutuhkan
Do’aku terjawab sudah.

(Terjemahan bebas dari History of Prayer)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.